Diseminasi teknologi Pertanian

Jajar Legowo Jagung Sari dan Non Tumpang Sari

JAJAR LEGOWO JAGUNG TUMPANG SARI DAN NON TUMPANG SARI

BPP Lalabata – Peningkatan hasil budidaya pertanian dengan cara memperluas lahan budidaya sekarang ini sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Mengingat populasi penduduk yang terus meningkat dan lahan potensial yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Oleh karena itu, pola tanam tumpangsari menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan produksi hasil pertanian tanpa memperluas areal budidaya.
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kedelai atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit.
Mengingat harga jagung relatif baik dan keunggulan komparatif tanaman jagung relatif lebh tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpang sari jagung-kedelai sistem tanam jajar legowo, tanaman jagung merupakan tanaman utamanya dan kedelai tanaman sampingannya. Dengan demikian, produktivitas jagung tetap atau dapat lebih tinggi dengan sistem tanam jajar legowo dan sebagai produksi tambahan berupa tanaman kedelai.
Pada sistem tanam jajar legowo 2:1 dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar baris), sehingga antara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai. Tingkat produktivitas jagung diperoleh pada pertanaman sistem tanam jajar legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi (karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border) dibanding pertanaman baris tunggal/biasa.
Ruang kosong pada baris legowo atau lorong ditanam kedelai dengan tanpa menurunkan produktivitas jagung sehingga terjadi peningkatan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Untuk mengetahui besarnya peningkatan produktivitas tanaman jagung sistem tanam jajar legowo yang ditanam tanam dengan sistem tumpangsari dengan kedelai dibandingkan dengan produktivitas jagung yang ditanam dengan sistem tanam jajar legowo non tumpangsari, maka hasil demplot yang dilakukan menunjukkan bahwa sistem tanam jajar legowo yang ditanam dengan sistem tanam tumpangsari dengan kedelai menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam jajar legowo non tumpangsari, Besarnya perbedaan produktivitas tersebut yaitu:
1. sistem tanam jajar legowo yang ditanam tanam dengan sistem tumpangsari pada varietas: a) Bisi 18 sebesar 12,25 t/ha, b) Bima Uri 19 sebesar 12,50 t/ha, dan c) Bima Uri 20 sebesar 11,80 t/ha.
2. sistem tanam jajar legowo yang ditanam tanam non tumpangsari pada varietas: a) Bisi 18 sebesar 12,19 t/ha, b) Bima Uri 19 sebesar 10,41 t/ha, dan c) Bima Uri 20 sebesar 11,66 t/ha (Ahmad Damiri).

Related Articles

Back to top button