Seputar BPP Lalabata

Kunjungan Tim Monitoring IPAT-BO Dilokasi Demplot BPP Lalabata

IPAT-BO adalah system produksi holistik dan terencana dengan menitikberatkan pemanfaatan kekuatan biologis tanah (pupuk alami), tanaman input lokal untuk memulihkan unsur hara tanah dan melipatgandakan hasil padi.

Dengan teknologi IPAT-BO petani akan hemat air, hemat bibit, hemat pupuk anorganik dan hemat pestisida dengan produktivitas tinggi.  Areal tanam juga tidak perlu digenangi air terus menerus, namun perlu didekati drainase tiap 3 meter dan didukung oleh pemakaian pupuk ABG (Amazing Bio Growth).

Pembuatan demplot di lahan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lalabata ini adalah program diseminasi teknologi yang merupakan salah satu instrumen kebijakan Kemenristekdikti agar penerapan teknologi hasil litbang nasional yang difasilitasi oleh perguruan tinggi dan dunia usaha (industri) dapat dinikmati oleh petani.

Keunggulan lain dari metode IPAT-BO ini, ujarnya, adalah hemat air yakni hanya 25 persen dari sawah konvensional sehingga sesuai bahkan untuk musim kering, hemat bibit 20-25 persen, hemat pupuk dan hemat pestisida, sedangkan panen bisa lebih awal 7-10 hari, ujar Tim Ipat-BO Sulsel.

Dengan metode konvensional butuh bibit 20-30 kg per hektar, untuk IPAT hanya 5-7 kg per hektar. Pupuk yang sebelumnya butuh 300 kg urea per hektar, 100 kg Za, 100kg NPK dikurangi saja 50 persen lalu ditambah pupuk organik seperti kompos jerami dan pupuk kandang.

Related Articles

Back to top button