Materi Penyuluhan

Menekan Kehilangan Hasil Panen Padi

Menekan Kehilangan Hasil Panen Padi

 OLEH :

 WAHYUNI, SP

NIP. 19820625 200902 2 003

 

 BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP)

KECAMATAN LALABATA

Pendahuluan

Kehilangan hasil panen padi umumnya disebabkan oleh PERILAKU para pemanen atau penderep baik karena tidak disengaja maupun disengaja.  Pemotongan padi yang berebutan menyebabkan banyak gabah rontok dan tercecer termasuk kehilangan hasil yang tidak disengaja. Tetapi dalam pengumpulan potongan padi, ada malai-malai padi yang ditinggalkan untuk nantinya diambil kembali, ini merupakan kesengajaan dari pemanen.

Dalam proses perontokan padi dengan cara gebot (dibanting), banyak gabah yang terlempar keluar alas perontokan tanpa disengaja. Tetapi ada pula pemanen dengan sengaja membantingkan padi hanya beberapa kali, kemudian jerami dibuang, sehingga masih banyak gabah yang belum terontok. Kondisi ini mendorong tumbuhnya para pengasak yang seringkali menimbulkan kerugian bagi petani.

Dari berbagai sumber yang diperoleh, angka kehilangan hasil tidak konsisten dan berbeda-beda untuk masing-masing daerah. Pada beberapa kasus pengukuran kehilangan pada tahapan pemanenan bahkan diperoleh angka negatif, sehingga sering timbul kesulitan dalam memvalidasi data kehilangan. Penyebab beragamnya angka kehilangan hasil yaitu penggunaan petak kontrol yang berbeda dan cara ploting yang tidak tepat Faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi tingkat kehilangan hasil panen adalah varietas padi, umur panen, alat dan cara panen, perilaku petani dan penderep, serta ekosistem.

 

Faktor-faktor Penyebab Kehilangan Hasil Panen

Selama waktu panen, susut dapat terjadi karena ada gabah yang rontok di lahan akibat cara panen yang tidak benar atau akibat penundaan waktu panen. Penundaan panen juga dapat menyebabkan keretakan pada gabah sehingga akan mudah rusak pada proses pengolahannya.

selama perontokan, susut dapat terjadi karena adanya gabah yang tertinggal pada malai,  juga kerusakan mekanis yang disebabkan oleh peralatan atau mesin yang digunakan

Proses pengeringan yang tidak sempurna juga dapat menimbulkan susut selama proses perontokan atau penggilingan. Perontokan yang dilakukan segera setelah pengeringan juga beresiko memperbesar persentase kerusakan mekanis. Kerusakan mekanis selama perontokan atau penggilingan juga dapat disebabkan oleh pengeringan yang terlalu cepat. Khusus untuk negara-negara Asean, pengeringan seringkali dilakukan dengan cara penjemuran yang dapat menimbulkan susut akibat akibat tercecernya  atau dimakan oleh ayam dan burung.  Selama dalam pengangkutan atau penyimpanan, susut dapat terjadi akibat gabah  tercecer bila tidak dikemas dengan cara yang benar. Mengapa penanganan pascapanen di tingkat petani masih belum optimal :

  1. Kebutuhan hidup yang mendesak
  2. Teknik & pengetahuan tradisional yang belum dikembangkan dipakai terus
  3. Kurang pengetahuan tentang penanganan pascapanen yang benar
  4. Kesulitan biaya & tenaga tambahan

Secara umum, kehilangan hasil panen padi dipengaruhi oleh : varietas tanaman, kadar air gabah saat panen, alat panen, cara panen, cara/alat perontokan, dan sistem pemanenan padi.

Kehilangan pada pemanenan.

Metode pengukuran kehilangan pada pemanenan yaitu dengan menggunakan metode papan. Metode ini merupakan pengembangan dari metode pengukuran secara langsung pada lahan sawah yang sudah selesai dipanen (Setyono et al, 1996). Pada metode ini pengukuran kehilangan dilakukan dengan menggunakan papan berukuran 20 cm x 100 cm sebanyak 5 papan untuk setiap ulangan atau sama dengan petak kontrol 1 m2. Pada dasar papan dilapisi dengan karung goni supaya mempermudah penangkapan gabah yang tercecer pada saat pemanenan. Kehilangan pada saat panen dihitung berdasarkan rumus :

G1

KHPN = ———————————— x 100%

G1 + G2

Keterangan

KHPN     = Kehilangan pada saat panen, (%)

G1       =   Berat gabah yang tercecer pada saat pemotongan padi yang ditampung pada papan, (kg)

G2       =   Gabah hasil perontokan dengan cara diiles pada petakan seluas 1 m2, (kg)

Gambar 1. Alat panen padi

Umur panen ditentukan berdasarkan (1) kenampakan, biasanya 90% dari butiran gabah pada malai sudah berwarna kuning keemasan, dan (2) umur tanaman seperti pada diskripsi varietas, yang diperhitungkan berdasarkan hari setelah tanam (HST) atau hari setelah berbunga rata (HSB). Panen padi yang baik dilakukan pada saat umur optimal yang dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22-23% pada musim kemarau, dan antara 24 –26% kadar air gabah pada musim penghujan.

Kehilangan pada penumpukan

Metode pengamatan kehilangan dilakukan dengan mengunakan alas plastik ukuran 1m2 pada setiap tumpukan padi setelah diopotong, dengan ukuran tumpukan padi antara 5 – 10 rumpun pada setiap tumpukan. Gabah yang tercecer pada alas plastic tersebut dan hasil gabah pada setiap tumpukan tersebut, masing-masing ditimbang. Kehilangan pada saat penumpukan dihitung berdasarkan rumus:

G1

KHPP = ———————————— x 100%

G1 + G2

Keterangan

KHPP = Kehilangan pada panumpukan padi, (%)

G1      =   Berat gabah yang rontok pada tumpukan padi, (kg)

G2      =   Gabah hasil perontokan dengan cara diiles dari setiap tumpukan padi,(kg)

Penumpukan sementara padi biasa dilakukan setelah pemotongan padi untuk menunggu kesempatan melakukan pengumpulan dan penumpukan. Dalam satu tumpukan biasanya terdiri dari 5–10 rumpun, tergantung besarnya cakupan tangan masing-masing tenaga pemanen. Penumpukan padi tersebut diletakkan diatas hamparanbekas potongan padi.

Tenaga pemanen melakukan penumpukan dengan sangat tergesa-gesa dan tanpa alas, untuk mendapatkan jumlah panen yang sebanyakbanyaknya, sehingga menimbulkan potensi kehilangan hasil yang cukup besar.

Kehilangan pada pengumpulan

Metode pengamatan kehilangan pada penumpukan yaitu dengan memberikan wadah plastik ukuran 200 cm x 100 cm untuk alas pengangkutan padi tersebut. Gabah yang tercecer pada alas pengangkutan dikumpulkan sampai proses penumpukan selesai.Gabah hasil ceceran dan gabah yang dihasilkan dari tumpukan padi masingmasing ditimbang. Kehilangan pada saat pengumpulan dihitung berdasarkan rumus:

G1

KHPN = ———————————— x 100%

G1 + G2

Keterangan

KHPN     =   Kehilangan pada saat panen, (%)

G1           =   Berat gabah yang tercecer pada saat pemotongan padi yang ditampung pada papan, (kg)

G2           =   Gabah hasil perontokan dengan cara diiles pada petakan seluas 1 m2, (kg)

Kegiatan pengumpulan padi dilakukan agar dalam melakukan perontokan tenaga pemanen tidak berpindah pindah tetapi pada satu tempat yang sudah dipilih. Kehilangan terjadi karena gabah akan tercecer pada sepanjang perjalanan, umumnya dalam melakukan kegiatan ini tidak ada seorang pun yang melakukan dengan menggunakan wadah/alas untuk mengangkut. Untuk mengetahui jumlah kehilangan hasil pada proses tersebut, pada saat pengangkutan dilakukan dengan menggunakan alas dari karung plastik, dan gabah yang rontok dari setiap kali pengangkutan ditampung dalam wadah.

 

Kehilangan pada perontokan

Metode pengukuran kehilangan pada saat perontokan yaitu (1) mengumpulkan dan menimbang gabah yang terlempar ke luar dari alas perontokan yang dipakai petani dengan cara menghamparkan pada alas perontokan ukuran 5 m x 5 m, dan (2) memisahkan dan menimbang gabah yang terbawa dalam gabah hampa dan kotoran dan (3) memisahkan dan menimbang gabah yang tidak terontok dan masih menempel pada jerami padi.

Kehilangan pada saat perontokan dihitung berdasarkan rumus:

 

G1 + G2 + G3

KHPR = ———————————— x 100%

                                                                             G 0 + G1 + G2 + G3

Keterangan :

KHPR   =   Kehilangan pada perontokan

G1         =   Gabah yang terlempar diluar alas petani

G2         =   Gabah hasil perontokan /tumpukan

G3         =   Gabah yang melekat di jerami dan tak rontok

G0         =   Gabah hasil perontokan

 

Kehilangan akibat penundaan perontokan

Metode pengukuran kehilangan akibat penundaan perontokan yaitu dengan memberikan alas pada tumpukan padi sebelum dirontok. Setelah padi selesai dirontok kemudian gabah yang tertinggal pada alas plastik ditimbang dan dikonversikan dengan gabah hasil perontokan.

G1

KHPPr = ———————————— x 100%

G1 + G2

Keterangan :

KHPPr    = Kehilangan pada penundaan perontokan, (%)

G1            = Gabah yang tercecer saat penundaan perontokan, (kg)

G2            = Gabah hasil perontokan dari setiap tumpukan (kg)

 

Umumnya petani pantura melakukan penundaan perontokan, yang lamanya bervariasi antara 1-3 malam, bahkan pada system ceblokan penundaan perontokan dapat dilakukan sampai 5-7 hari, sehingga dapat menyebabkan terjadi kehilangan hasil dan penurunan kualitas gabah selama penundaan perontokan. Penurunan kualitas terjadi karena gabah tumbuh, berkecambah, gabah berwarna hitam karena busuk atau tumbuh jamur maupun beras berwarna kuning karena terjadinya proses reaksi browning enzimatis pada beras.

Penundaan perontokan padi di sawah 1 malam dapat memberikan efek positif terhadap mutu seperti berkurangnya butir hijau pada gabah dan padi lebih rapuh sehingga mudah dirontok, namun terjadi pula penurunan kualitas karena terjadinya proses tumbuh maupun proses enzimatis sehingga gabah berkecambah atau berubah warna menjadi kuning dan busuk, terutama penundaan yang dilakukan lebih dari satu malam.

Related Articles

Back to top button