Materi Penyuluhan

Pengendalian Hama Wereng Coklat dan Virus Kerdil

Pengendalian Hama Wereng Coklat dan Virus Kerdil

 OLEH :

 WAHYUNI, SP

NIP. 19820625 200902 2 003

 

 BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP)

KECAMATAN LALABATA

              Wereng coklat merupakan hama global bukan saja menyerang pertanaman padi di Indonesia, tetapi juga menyerang pertanaman padi di Cina, Thailand, Vietnam, India, Bangladesh, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea.Wereng coklat merusak tanaman padi dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga tanaman menjadi kering seperti terbakar dan biasa disebut hopperburn. Wereng coklat merupakan hama r-strategis;  dapat berkembang biak dengan cepat, dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. Selain itu, hama ini menularkan juga penyakit virus kerdil hampa (VKH),  virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2). Pada saat vegetatif VKH menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak, atau bergerigi, terkadang berwarna putih.  tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8-66,9% tertekan, keluar malai diperpanjang sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal  (tidak keluar penuh), daun bendera terjadi distorsi. Saat pematangan buah tidak mengisi  dan menjadi hampa.

Gejala Serangan

Serangga dewasa dan nimfa biasanya menetap di bagian pangkal tanaman padi dan mengisap pelepah daun. Wereng coklat menusukkan stiletnya ke dalam ikatan pembuluh vaskuler tanaman inang dan mengisap cairan tanaman dari jaringan floem. Nimfa instar keempat dan kelima menghisap cairan tanaman lebih banyak daripada instar pertama, kedua dan ketiga. Wereng coklat betina mengisap cairan lebih banyak daripada yang jantan. Kerusakan khas akibat isapan wereng coklat adalah kering bagaikan terbakar yang dikenal dengan Hopperburn. Gejala awal yang timbul adalah menguningnya helaian daun yang paling tua dan makin banyaknya jamur jelaga karena banyaknya embun madu yang dikeluarkan wereng coklat. Perubahan warna berlangsung terus meliputi semua bagian tanaman, dan akhirnya seluruh tanaman mengering berwarna coklat.

Hopperburn biasanya terjadi pada fase setelah pembentukan malai. Kehilangan hasil akibar serangan wereng coklat berkisar antara 10-90 persen, tergantung pada tingkat kerusakan tanaman yang terserang. Selain sebagai hama, wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.

  • Fase Tanaman Muda

Tanaman padi yang diserang (cairan selnya dihisap) akan muncul gejala tanaman padi menguning, mengering, lalu mati.

  • Fase Tanaman Tua

Sedangkan pada tanaman padi yang sudah tua (keluar malai) serangan wereng coklat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhenti dan mengakibatkan butir padi menjadi hampa.

Pengendalian

  • Pengendalian secara Bercocok Tanam
  1. Penanaman Varietas tahan misalnya Ciherang dan Inpari 13 yang dikombinasikan dengan pergiliran varietas.
  2. Tanam padi serentak dengan sistem legowo 2 : 1
  3. Keringkan pertanaman padi secara serentak
  4. Waktu persemaian padi
    • Wereng imigran tidak tumpang tindih : 15 hari setelah puncak imigran
    • Wereng imigran tumpang tindih 15 hari setelah puncak imigran ke-2
  5. Tuntaskan pengendalian pada generasi ke-1
    • Puncak imigran awal = Go
    • 25-30 hari kemudian = imago G1
    • 25-30 hari kemudian = imago G2
    • 25-30 hari kemudian = imago G3
  6. Pengendalian terbaik:
    • pada G0 dan G1
    • paling lambat pada G2
    • pada G3 tidak akan berhasil
  • Pengendalian secara Fisik Mekanik
  1. Secara fisik dengan menggunakan perangkap lampu yang berwarna terang, misanya dengan warna kuning yang dilakukan pengecekan setiap hari kemudian dimusnahkan.
  2. Secara mekanik dengan memusnahkan telur dan nimfa serta menangkap langsung imagonya baik dengan menggunakan tangan maupun dengan alat misalnya jaring.
  • Pengendalian secara Hayati
    1. Pemanfaatan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana, Hirsutella citriformis dan Metarrhizium anisopliae.
    2. Pemanfaatan parasitoid Anagrus (Hymenoptera; Mymaridae), Gonatocerus sp. (Hymenoptera; Mymmaridae) dan Oligosita sp. (Hymenopter, Trichogrammatidae).
    3. Pemanfaatan Predator Lycosa pseudoannulata (Araneida ; Lycosidae), Paederus (Coleoptera ; Coccinellidae), Ophionea sp. (Coleoptera ; Carabidae), Coccinella sp. (Coleoptera; Coccinellidae) dan Cyrtorhinus lividipennis (Hemiptera ; Miridae)

 

  • Pengendalian secara kimiawi
  1. Keringkan pertanaman sebelum aplikasi
  2. Aplikasi saat air embun tidak ada : pukul 00 – 11.00 pagi atau pukul 16.00 – 18.00
  3. Tepat dosis dan jenisnya yaitu yang berbahan aktif Pymetrozine, dinotefuran.

 

 

 

Pengendalian Penyakit Virus Kerdil

Sampai saat ini tidak ada virusida atau bahan lain yang dapat dipakai untuk mengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (Gb3).  Usaha yang dapat dilakukan adalah:

  1. Kendalikan wereng coklat terutama makroptera/bersayap sampai populasi serendah mungkin
  2. Hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
  3. Cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput

Ciri-ciri tanaman yang terserang virus kerdil rumput (3a), kerdil hampa (3b) dan campuran virus kerdil rumput dan virus kerdil hampa (3c)

Related Articles

Back to top button