Diseminasi teknologi Pertanian

Teknologi Produksi Kacang Tanah di Lahan Kering

BPP Lalabata – Kacang tanah merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak digunakan dan dikonsumsi masyarakat karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Kacang tanah tidak hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga serta pakan ternak tetapi juga bahan baku industri. Sebagai bahan baku industri, kacang tanah digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun dan minyak goreng. Sedangkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak, kacang tanah mengandung lemak, protein, karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral.

Dari tahun 2011 sampai tahun 2015 luas lahan panen kacang tanah di Kepulauan Bangka Belitung terus mengalami penurunan. Luas lahan panen kacang tanah tahun 2011 seluas 342 ha dengan produktivitas 0.99 ha/ton sedangkan tahun 2015 hanya mencapai 148 ha, dengan produktivitas 0,97ton/ha saja.

Sementara itu, kebutuhan masyarakat Bangka Belitung akan kacang tanah terus meningkat namun tidak diimbangi dengan laju peningkatan produksi sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan kacang tanah harus mendatangkannya dari luar daerah Bangka Belitung. Rendahnya produktivitas kacang tanah di Bangka Belitung disebabkan beberapa faktor diantaranya mutu benih yang rendah dan kurang optimalnya usaha budidaya yang dilakukan oleh petani.

Umumnya usaha budidaya kacang tanah yang dilakukan petani di Bangka Belitung adalah dilahan kering. Untuk itu dibutuhkan teknologi guna meningkatkan produktivitas kacang tanah mulai dari persiapan benih hingga proses pasca panen.

Benih dan Varietas

Benih berkualitas merupakan salah satu syarat utama dalam budidaya kacang tanah. Pengunaan benih berkualitas dan bermutu akan membuat populasi tanaman optimal dan pertumbuhan tanaman seragam. Kriteria benih bermutu dan berkualitas antara lain murni dan seragam, daya tumbuh lebih dari 90 %, bebas hama dan penyakit, dan merupakan varietas unggul. Varietas unggul dicirikan dengan mempunyai potensi hasil tinggi, ukuran biji seragam, sehat dan jelas asal usulnya. Biji kacang tanah yang baru dipanen sangat baik untuk dijadikan benih. Kebutuhan benih kacang tanah per hektar berkisar 90-100 kg.

Pemilihan varietas sebaiknya memperhatikan kesesuaian lingkungan, ketahanan terhadap hama dan penyakit dan kebutuhan pasar. Petani di Bangka Belitung biasanya melakukan usaha budidaya kacang tanah dilahan kering dengan kondisi tanah yang masam (pH tinggi). Beberapa varietas unggul kacang tanah yang ditelah dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yang dapat di usahakan di Bangka Belitung diantaranya 1) Varietas jerapah (biji 2, potensi hasil 4.0 t/ha, Umur panen 90-95 hari, tahan layu dan toleran lahan masam), 2) Varietas Kancil (biji 2, potensi hasil 3.5 t/ha, Umur panen 90-95 hari, tahan layu bakteri, dan toleran klorosis), 3) Varietas Singa (biji 3-4, potensi hasil 4.5 t/ha, Umur panen 90-95 hari, toleran penyakit layu, tahan karat daun, dan toleran kekeringan), 4) Varietas Bison (biji 2, potensi hasil 3.6 t/ha, Umur panen 90-95 hari, tahan karat daun, dan adaptif lahan kering), 5) Varietas Tuban (biji 2, potensi hasil 3.2 t/ha, Umur panen 90-95 hari, tahan layu, agak peka penyakit daun, adaptif lahan kering dan agak toleran kekeringan) dan beberapa varietas unggul lainnya.

Penyiapan Lahan

Untuk memperoleh struktur tanah yang gembur dan drainase yang baik, tanah sebaiknya dibajak dua kali sedalam 15–20 cm, lalu digaru, dan diratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma, dan dibuat bedengan selebar 3–4 meter. Antar bedengan dibuat saluran drainase dalam 30 cm dan lebar 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase pada saat becek, dan sebagai saluran irigasi pada saat kering. Kacang tanah masih dapat berproduksi dengan baik pada tanah yang berpH rendah atau tinggi. Tetapi pada pH tanah tinggi di Bangka Belitung kacang tanah sering mengalami klorosis, yakni daun-daun menguning. Apabila tidak diatasi, polong menjadi hitam dan hasil menurun hingga 40%. Untuk itu saat penyiapan lahan dilakukan pemberian dolomit 500 kg/ha dan pupuk kandang 2.5 – 5 ton/ha.

Penanaman
Penanaman dapat dilakukan pada awal musim hujan atau akhir musim hujan. Di lahan kering, kacang tanah dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan dengan pola tanam yang dapat diterapkan yaitu kacang tanah-jagung atau dapat dijadikan tanaman sela perkebunan yaitu kacang tanah-karet. Penanaman secara baris tunggal dengan tugal atau alur bajak dengan jarak tanam 35–40 cm x 10–15 cm, satu biji/lubang sehingga populasi sekitar 250.000 tanaman per hektar. Kebutuhan benih antara 90–100 kg biji/ha. Penanaman juga dapat dilakukan secara baris ganda (50 cm x 30 cm) x 15 cm, satu biji/lubang. Untuk lahan yang banyak rayap dan semut dapat diberikan karbofuran sebanyak 10 kg/ha atau 5-6 butir/lubang.


Penyiangan, Pembumbunan dan Pengairan

Kegiatan penting lainnya dalam usaha budidaya kacang tanah adalah penyiangan dan pembumbunan, karena jika tidak dilaksanakan akan dapat menurunkan hasil yang cukup tinggi. Pembumbunan bertujuan untuk mengemburkan tanah dan sekaligus membersihkan gulma (penyiangan). Pembumbunan dilakukan sekali saja bersamaan dengan penyiangan gulma kedua atau sebelum tanaman berbunga. Penyiangan gulma dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 15 hari dan sebelum tanaman berbunga. Setelah ginofor masuk ke dalam tanah, tanaman tidak boleh disiang karena dapat menyebabkan kegagalan pembentukan polong.

Pengairan dapat dilakukan sebanyak 4 kali selama masa pertumbuhan yaitu pada periode pertumbuhan awal (umur hingga 15 hari), umur 25 hari (awal berbunga), umur 50 hari (pembentukan dan pengisian polong), dan umur 75 hari (pemasakan).

Pemupukan

Panduan rekomendasi pemupukan untuk kacang tanah di lahan kering dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Jenis dan status hara Kadar hara tanah Dosis pupuk (ha) Waktu Pemberian
1). N-total
a. Rendah
b. Sedang
c. Tinggi
< 0.2 %
0.2-9.5 %
> 9.5 %
75 kg urea
50 kg urea
25 Kg urea
Bersamaan tanam atau saat tanaman berumur 7-15 hari dengan larik atau tugal
2). P-Olsen
a. Rendah
b. Sedang
c. Tinggi
< 11 ppm
11.15 ppm
> 15 ppm
75-100 kg SP 36
50-75 kg SP 36
25-50 kg SP 36
Pada saat tanam
3). K-NH4OAC
a. Rendah
b. Sedang
c. Tinggi
< 0.4 me/100 g
0.4-0.7 me/100 g
> 0.7 me/100 g
50 kg KCL
25 kg KCL
0
Bersamaan tanam dengan cara disebar.

Pengendalian hama dan penyakit

Hama utama yang menyerang kacang tanah antara lain wereng kacang tanah (Empoasca fasialin), penggerek daun (Stomopteryx subscevivella), ulat jengkal (Plusia chalcites) dan ulat grayak (Prodenia litura). Hama ulat biasanya banyak muncul dipagi hari, hama tersebut dapat dikendalikan dengan insektisida endosulfan, klorfirifos, monokrotofos, metamidofos, diazinon, (seperti Thiodan, Dursban, Azodrin, Tamaron, dan Basudin). Untuk pencegahan, pestisida dapat diaplikasikan pada umur 25, 35, dan 45 hari.

Penyakit utama kacang tanah antara lain layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), bercak daun (leafspot), penyakit karat (Puccinia arachidis). Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan seperti varietas jerapah, kancil, bison, singa dan sebagainya atau dapat menggunakan fungisida benomil, mankozeb, bitertanol, karbendazim, dan klorotalonil (seperti Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsane MX 200, dan Daconil). Untuk pencegahan, fungisida tersebut dapat diaplikasikan pada umur 35, 45, dan 60 hari.

Disamping pengendalian secara kimiawi, pengendalian secar kultur teknis dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman yang bukan inang, mencabut, membakar dan membenamkan tanaman sakit dalam tanah dan penggunaan agensia hayati.
Panen dan Pascapanen

Umur panen kacang tanah tergantung dari varietas yang ditanam (90-110 hari). Masak fisiologis ditandai dengan kulit polong mengeras, berserat, bagian dalam berwarna coklat, jika ditekan polong mudah pecah. Pelaksanaan kegiatan pascapanen yaitu apabila panen telah dilaksanakan selanjutnya polong segera dirontokan, kemudian dikeringkan dengan cara dijemur hingga kadar air mencapai 12 % atau sekitar tiga hari lamanya penjemuran (tergantung terik matahari), setelah itu dikumpulkan dan disortir. Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang.

Bila hasil panen akan digunakan untuk benih maka dapat disimpan dalam bentuk polong dengan kadar air 6 % dengan lama penyimpanan sekitar 7 bulan. Polong kering disimpan ke dalam karung goni di gudang penyimpanan yang tempatnya kering. Penyimpanan dalam bentuk biji kering dilakukan dengan mengupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur (keringkan) biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu dikemas dalam plastik.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button